B'Meyai Page

"Small steps, big results"

B'Meyai Page

"Small steps, big results"

EducationUncategorized

Hemat Bukan Pelit : Seni Menjaga Berkah di Tengah Zaman Konsumtif

Hemat secara bahasa berarti cermat dan tidak boros, sementara secara istilah ia merupakan jalan tengah antara kikir dan berlebihan. Dalam Islam, hemat disebut iqtishad yang mencerminkan keseimbangan dalam menggunakan nikmat Allah. Sikap ini bukan sekadar menahan pengeluaran, melainkan bagian dari akhlak mulia yang menuntun manusia pada hidup sederhana dan penuh berkah.

Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Furqan ayat 67, 

“Dan orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. Infak mereka adalah pertengahan antara keduanya”. 

Ayat ini menegaskan pentingnya keseimbangan dalam membelanjakan harta. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan. Dengan demikian, hemat bukan berarti pelit, melainkan menggunakan harta sesuai kebutuhan, bukan keinginan.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa hemat (iqtishad) adalah posisi terpuji antara boros dan kikir. Menurut beliau, hemat adalah kebijaksanaan menggunakan nikmat Allah agar tidak berakhir pada penyesalan. Sementara itu, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Madarijus Salikin menghubungkan hemat dengan kondisi hati. Hati yang dekat dengan Allah akan melahirkan sikap qana’ah (merasa cukup) dan hemat, bukan kemiskinan yang dipaksakan.

Dalam konteks kehidupan modern, nilai hemat perlu diterapkan di keluarga, kampus, dan masyarakat. Orang tua perlu mengajarkan anak membedakan kebutuhan dan keinginan sejak dini, serta membiasakan menabung dan merawat barang. Mahasiswa perlu belajar mengelola uang saku dengan cermat, memanfaatkan fasilitas kampus, dan menolak gaya hidup konsumtif serta jeratan pinjaman online. Masyarakat dapat menghidupkan kembali gotong royong dalam hajatan, mengelola bank sampah, serta hemat air dan energi secara kolektif.

Hidup hemat adalah cerminan kecerdasan spiritual. Ia menjaga manusia agar tidak dikuasai oleh harta, melainkan menjadikan harta sebagai sarana ibadah. Dalam kesederhanaan terdapat ketenangan, dan dalam qana’ah terdapat keberkahan. Itulah hakikat hemat dalam Islam: sederhana, seimbang, dan selalu bersyukur atas karunia Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *